Aku disini masih sendiri, entah apa yang harus aku lakukan
selain terus memikirkanmu yang pergi meninggalkanku dengan sayatan pedih yang
membuat hatiku berkecamuk. Aku yang berjuang mempertahankanmu, aku yang
berjuang menerimamu apa adanya, tapi yang kudapat hanya arti sebuah kehilangan.
Taukah kamu bagaimana rasanya ditinggalkan lagi sayang-sayangnya? Percayalah,
semuanya lebih dari sekedar kata
‘patah hati’. Jika memang aku bukan orang yang
dipilih hatimu untuk berlabuh, mengapa kamu membiarkan aku terlalu larut dalam
rasa nyaman? Sungguh, rasa nyaman itu membahayakanku. Aku tak bisa lepas dari
semua kenangan kita yang mungkin hanya sekejap. Aku tak bisa dengan mudah
melupakan semuanya, semua yang pernah kita jalin bersama. Menyakitkan ketika
aku harus diam-diam memperhatikanmu dan memperdulikanmu. Aku pun tak tahu apa
yang kamu rasakan, aku tak tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu. Adakah sedikit
kepedulianmu untukku? Entahlah. Aku hanya ingin kamu tahu, sampai saat ini aku
masih menyayangimu. Perasaanku tak berubah sama sekali, betapapun rasanya sakit
ketika aku harus menerima kenyataan bahwa kita tak sedekat dulu. Rasanya ingin
kembali pada masa-masa itu, masa dimana aku merengek hanya karena rindu, masa
dimana ketika aku sakit kamulah yang merasa cemas, masa dimana kamu selalu
mengantarkanku pulang dan yang pasti masa dimana hanya ada “kita”. Bukan “aku”
dan “kamu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar