Aku asyik bersenandung dengannya dihalaman depan rumah, dia yang jago bermain gitar membuat aku suka bernyanyi. Ya walaupun suaraku hampir mirip klakson bis, kenceng tapi bikin kaget! Rio, dia pacarku. Dia ahli bermain gitar dan beberapa minggu lagi dia bakalan konser di acara peresmian restaurant ayahnya. Aku dan Rio telah berhubungan hampir 2 tahun. Hubungan kita berjalan baik ya meskipun terkadang masalah pasti aja dateng. Dan disini, akhirnya masalah melanda hubungan kita. Rio sering sekali marah-marah, aku bingung dan merasa tidak tahu apa-apa. Apa mungkin dia punya masalah? Setiap kali aku bertanya dia selalu menjawab "gapapa, apasih kamu lebay banget". Tapi dengan tegar aku menjaga hubungan ini, mencoba pertahanin walau sulit rasanya.
Besok, hari dimana dia pertama kalinya bermain gitar dan bernyanyi dihadapan banyak orang. Aku gak sabar ingin melihat pacarku bernyanyi merdu disana. Aku mencoba menghubungi Rio untuk memberinya semangat tapi nihil, dia tak bisa dihubungi. Seketika aku resah, tapi aku ciba abaikan itu dengan sibuk memilih gaun yang cocok dan bagus untuk pergi ke acara besok. Akhirnya aku memilih baju terusan berwarna coklat dengan lengan panjang dan panjang selutut. Aku siap untuk hari besok! Bertepuk tangan paling kencang untuk pacarku!
Aku melangkah masuk kedalam restaurant dengan gugup. Ada sesuatu yang aneh, orangtua Rio sama sekali tak menyapaku. Aku seperti orang asing disini, sedih tapi aku kembali ceria ketika Rio menaiki panggung megah itu. Aku duduk paling depan dengan mata tak berkedip sedetikpun. Rio terlihat cool, menarik, ah dia pacarku paling wah! Rio mulai mengeluarkan suara, dia mengucapkan persembahan lagunya untuk... apa aku tak salah dengar? dia mengucapkan nama wanita lain! Aku semakin tak mengerti, mulutku semakin menganga ketika ada sosok wanita cantik sebayaku berjalan menaiki panggung dan duduk disamping Rio. Mereka bernyanyi berdua! Mataku benar-benar tak berkedip, tapi bulir-bulir air mata sungguh tak bisa kutahan. Selesai lagu, Rio mengumumkan sesuatu. Aku menatapnya tajam, Rio mengetahui keberadaanku dan dia menatapku. Namun tak ada senyuman, dia menatapku hanya sekilas. Dia mengumumkan jika wanita itu... tunangannya! Tunangan yang akan diadakan 3 hari kemudian! Apa aku shock? Apa aku kecewa? Apa aku marah? Jelas! Aku menganga, dengan air mata terus mengalir aku sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Aku berdiri membalikkan badan dan berjalan lurus tanpa memperdulikan orang-orang disekelilingku. Tapi langkahku terhenti ketika ada seseorang berdiri dihadapanku. Joan, sahabatku. Dia menatapku dengan begitu dalam. Tangannya memegang pipiku dan mengusap air mataku. Joan menarik tanganku untuk keluar dari restaurant itu. Aku menoleh ke belakang, Rio menatapku. Entah tatapan apa itu. Joan mengajakku ke tempat yang tenang, sungguh aku baru menyadari. Siapa selama ini yang benar-benar peduli dan sayang padaku. Dia Joan, sahabatku.