Minggu, 22 Oktober 2017

Silakan Pergi



Sore itu, menuju maghrib, pertama kali kita jalan berdua, semuanya terasa kaku, hening, dan hampa. Hanya ada suara derap kaki dan degup jantung yang begitu tidak terkontrol. Tapi lihatlah, waktu mulai mengiringi langkah kita. Semuanya berubah. Yang awalnya hanya ada abu-abu, kini mulai berwarna.
Tapi sepertinya semesta berkata lain. Ia tidak setuju, melihat sepasang manusia yang perlahan saling menyakiti. Secara pasti, kamu merubah warna itu kembali. Bahkan, kini hanya ada hitam bagiku.
Lihat! Apa yang telah kamu perbuat tidak hanya berdampak pada dirimu sendiri. Tapi aku! Dengan terkatung-katung aku mencoba menyelamatkan hati, sebelum ia tergores lebih dalam. Tolong, jangan biarkan aku menganggap bahwa semua laki-laki di dunia ini sama saja, yang hatinya tertutup nafsu dan ego.
Jika perempuan itu adalah perempuan terbaik yang pernah kamu kenal, pergilah. Aku adalah perempuan yang tidak akan pernah sanggup melihat orang yang begitu aku cintai, menabur kebahagiaan pada perempuan lain. Pergilah, biarkan aku berusaha kembali menata hati yang telah hancur berkeping-keping. Pergilah, aku tidak ingin memiliki lelaki yang hatinya begitu mudah sekali dilema. Pergilah, aku pun tidak membutuhkan lelaki yang tidak bisa menjaga komitmen yang telah dibuat.
Pergilah, kamu harus selalu bahagia, dengan atau tanpa aku sekalipun.