Jumat, 11 April 2014

Jangan Takut, Hati Kita itu Sama.



          Aku tahu apa yang dia rasakan, aku tahu apa yang dia impikan, aku tahu apa yang membuatnya bahagia. Aku mengetahui semuanya, namun aku hanya sekedar lelaki yang selalu diam memperhatikannya dari jauh.  Memang ini sangat buruk jika dilihat status ku adalah “lelaki”, tapi yang mesti kita semua tahu lelaki pun mempunyai rasa gengsi yang tinggi. Tapi untukku, bukan gengsi yang membuatku tak ingin mendekatinya. Namun aku melihat dari sudut pandang ekonomi keluargaku dan dia, benar-benar seperti bumi dan langit, bahkan aku yakin aku dan dia bagai air dan minyak. Sampai kapanpun tak bisa menyatu.
       Aku diam mematung didepan mading sekolah, kali ini sekolah sudah sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang berkeliaran disini. Aku belum mau pulang sampai aku melihat dia pulang. Mading sekolah berada tepat disamping kelasnya Jen, nama wanita yang selalu kucuri-curi kehadirannya. Beberapa kali mataku melirik ke arah samping mencoba memastikan kalau Jen akan pulang. Tapi hampir setengah jam aku menunggu, Jen tak kunjung keluar kelas juga.
“Nad, apa Jen sudah pulang?” tanyaku pada Nadine treman sekelasnya Jen.
“Mau apa kamu cari-cari dia? Dia sudah pulang, sama pacarnya.” Nadine menjawab pertanyaanku dengan ketus.
“Pacar?!” Aku jelas kaget mendengar Jen pulang dengan seorang pacar, setahuku dia benar-benar tak pernah jalan dengan seorang lelaki. Nadine melengos pergi begitu saja. Aku benar-benar merasa tersambar petir, sakit rasanya. Aku melangkah pergi dengan sepeda motor kesayanganku, peninggalan ayah. Dengan enggan aku menjalankan motorku, namun sialnya motor ini sama seperti Jen. Benar-benar menyebalkan hari ini, motorku mogok kehabisan bensin. Aku memang lupa mengisinya tadi pagi. Dengan nafas terengah-engah aku mendorong motorku sampai menemukan pom bensin didekat sini.
“Kamu jahat Don! Tolong lepasin!” aku benar-benar tahu suara siapa itu, suara yang muncul tepat diujung sana. Aku berlari menuju suara itu membiarkan motorku tergeletak dipinggir jalan.
“Jen!” dengan sontak aku menghajar lelaki yang sedang bersama Jen, dari sikap lelaki itu terhadap Jen dengan jelas aku tahu Jen disakiti oleh lelaki yang terlihat geram ini. Beberapa pukulan mendarat di wajahku dan tubuhku, benar-benar sakit. Namun demi seseorang yang aku sayangi, ini tak seberapa.
“Awas lo ya! Campur urusan gue aja lo, liat nanti! Kita belum selesai!” lelaki itu mengerang kesakitan melaju bersama mobil sportnya.
“Gilang kamu... gak kenapa-kenapa?” ini benar-benar seperti mimpi, aku mendnegar suara yang sudah lama aku nantikan.
“Aku gapapa Jen. Kamu gapapa?”
“Aku baik-baik saja. Kita ke rumah sakit ya?”
“Gak usah Jen, aku harus membawa motorku yang ku tinggal dipinggir jalan sana.” Aku menunjuk sepeda motorku yang sedikit jauh dari tempat kami berada. Jen mengarahkan matanya ke sepeda motorku.
“Kalau begitu aku ikut.” Aku kaget mendengar ucapannya. Orang kaya raya seperti dia kenapa mau ikut denganku? Apa selama ini aku salah berfikir tentang orang kaya yang kebiasaannya menghina orang sepertiku, dan tidak ingin berteman dengan baik dengan orang sepertiku. Aku mngangguk kaku dengan berjalan ke arah motorku, Jen mengekorku dari belakang.
“Motorku habis bensin, aku harus mendorongnya sampai pom bensin.”
“Aku bantu dorong ya Lang.” Dengan sigap Jen membantuku mendorong motor. Aku memegang stir motor dan Jen mendorong motorku dari belakang. Aku memperhatikan wajahnya yang mulai berkeringat. aku menyodorkan sapu tangan padanya dengan senyum termanis yang pernah aku beri.
“Lang, terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Kamu sudah membantuku hari ini. Terima kasih juga kamu..sudah..memperhatikanku  selama ini.” Jen berkata dengan senyum yang paling aku suka setelah senyum dari bundaku. Tapi ini benar-benar membuat jantungku berhenti mendadak, aku tidak mengerti dengan perkataan Jen kali ini.
“Aku tahu kamu suka memperhatikanku walau dengan mencuri-curi---” Jen berucap kembali seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan. Dia melirikku dan kembali melanjutkan perkataannya. “Kenapa tidak secara terang-terangan saja?”
“A..aku. Aku benar-benar.. Jen apa bisa kita tidak usah membahas ini?”
“Kenapa? Apa kamu tidak ingin tahu perasaanku?”
“Maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Aku suka jika kamu sellau memperhatikanku.” Antara senang dan takut, semuanya beradu menjadi satu. Senang karena ternyata Jen tidak marah jika aku selalu mencurio-curi pandang padanya, takut karena aku hanya orang yang tak punya apa-apa, aku takut ini hanya permainan saja.
“Kenapa kamu suka itu? Aku berbeda denganmu Jen.”
“Beda apa? Apa perbedaan melarang perasaan seseorang untuk menyukai? Apa kamu tidak mau memperjuangkan sesuatu dari perbedaan?” Aku hanya diam, perkataan Jen memang benar. Selama ini aku banyak diam, tidak menyadari jika semua manusia mempunyai hak mencintai. Tak memandang status apapun.
“Kamu benar. Aku terlalu takut menyatakan Jen.” Aku benar-benar merasa lemah, menyerah sebelum berperang.
“Lalu? Apa yang akan kamu---”
“Aku mencintaimu.” Aku berbisik tepat ditelinganya. Hatiku berdesir lebih cepat, jantungku berdetak lebih kencang. Aku tidak tahu apa perkataanku tadi benar atau tidak. Yang pasti aku telah menyatakan perasaanku, diterima atau tidak mungkin itu memang sudah jalan Tuhan. Jen memelukku, dia berbisik “Tolong jangan pernah menganggap kita beda. Aku dan kamu sama-sama manusia yang mencari hal yang kita mau. Satu hal yang sama dari kita adalah kita sama-sama mencintai. Sudah kutunggu ini sejak awal, terimakasih.” Aku benar-benar bahagia mendengar ucapan Jen. Tuhan tak pernah mengijinkan kita untuk menyerah. Kini perbedaan tak pernah aku takuti lagi. Aku dan Jen benar-benar berbeda, namun hati kita sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar