Aku
tahu apa yang dia rasakan, aku tahu apa yang dia impikan, aku tahu apa yang
membuatnya bahagia. Aku mengetahui semuanya, namun aku hanya sekedar lelaki
yang selalu diam memperhatikannya dari jauh.
Memang ini sangat buruk jika dilihat status ku adalah “lelaki”, tapi
yang mesti kita semua tahu lelaki pun mempunyai rasa gengsi yang tinggi. Tapi untukku,
bukan gengsi yang membuatku tak ingin mendekatinya. Namun aku melihat dari
sudut pandang ekonomi keluargaku dan dia, benar-benar seperti bumi dan langit,
bahkan aku yakin aku dan dia bagai air dan minyak. Sampai kapanpun tak bisa
menyatu.
Aku
diam mematung didepan mading sekolah, kali ini sekolah sudah sepi, hanya
tinggal beberapa siswa yang berkeliaran disini. Aku belum mau pulang sampai aku
melihat dia pulang. Mading sekolah berada tepat disamping kelasnya Jen, nama
wanita yang selalu kucuri-curi kehadirannya. Beberapa kali mataku melirik ke
arah samping mencoba memastikan kalau Jen akan pulang. Tapi hampir setengah jam
aku menunggu, Jen tak kunjung keluar kelas juga.
“Nad,
apa Jen sudah pulang?” tanyaku pada Nadine treman sekelasnya Jen.
“Mau
apa kamu cari-cari dia? Dia sudah pulang, sama pacarnya.” Nadine menjawab
pertanyaanku dengan ketus.
“Pacar?!”
Aku jelas kaget mendengar Jen pulang dengan seorang pacar, setahuku dia
benar-benar tak pernah jalan dengan seorang lelaki. Nadine melengos pergi begitu
saja. Aku benar-benar merasa tersambar petir, sakit rasanya. Aku melangkah
pergi dengan sepeda motor kesayanganku, peninggalan ayah. Dengan enggan aku
menjalankan motorku, namun sialnya motor ini sama seperti Jen. Benar-benar
menyebalkan hari ini, motorku mogok kehabisan bensin. Aku memang lupa
mengisinya tadi pagi. Dengan nafas terengah-engah aku mendorong motorku sampai
menemukan pom bensin didekat sini.
“Kamu
jahat Don! Tolong lepasin!” aku benar-benar tahu suara siapa itu, suara yang
muncul tepat diujung sana. Aku berlari menuju suara itu membiarkan motorku
tergeletak dipinggir jalan.
“Jen!”
dengan sontak aku menghajar lelaki yang sedang bersama Jen, dari sikap lelaki
itu terhadap Jen dengan jelas aku tahu Jen disakiti oleh lelaki yang terlihat
geram ini. Beberapa pukulan mendarat di wajahku dan tubuhku, benar-benar sakit.
Namun demi seseorang yang aku sayangi, ini tak seberapa.
“Awas
lo ya! Campur urusan gue aja lo, liat nanti! Kita belum selesai!” lelaki itu
mengerang kesakitan melaju bersama mobil sportnya.
“Gilang
kamu... gak kenapa-kenapa?” ini benar-benar seperti mimpi, aku mendnegar suara
yang sudah lama aku nantikan.
“Aku
gapapa Jen. Kamu gapapa?”
“Aku
baik-baik saja. Kita ke rumah sakit ya?”
“Gak
usah Jen, aku harus membawa motorku yang ku tinggal dipinggir jalan sana.” Aku
menunjuk sepeda motorku yang sedikit jauh dari tempat kami berada. Jen mengarahkan
matanya ke sepeda motorku.
“Kalau
begitu aku ikut.” Aku kaget mendengar ucapannya. Orang kaya raya seperti dia
kenapa mau ikut denganku? Apa selama ini aku salah berfikir tentang orang kaya
yang kebiasaannya menghina orang sepertiku, dan tidak ingin berteman dengan
baik dengan orang sepertiku. Aku mngangguk kaku dengan berjalan ke arah
motorku, Jen mengekorku dari belakang.
“Motorku
habis bensin, aku harus mendorongnya sampai pom bensin.”
“Aku
bantu dorong ya Lang.” Dengan sigap Jen membantuku mendorong motor. Aku
memegang stir motor dan Jen mendorong motorku dari belakang. Aku memperhatikan
wajahnya yang mulai berkeringat. aku menyodorkan sapu tangan padanya dengan
senyum termanis yang pernah aku beri.
“Lang,
terima kasih.”
“Untuk
apa?”
“Kamu
sudah membantuku hari ini. Terima kasih juga kamu..sudah..memperhatikanku selama ini.” Jen berkata dengan senyum yang
paling aku suka setelah senyum dari bundaku. Tapi ini benar-benar membuat
jantungku berhenti mendadak, aku tidak mengerti dengan perkataan Jen kali ini.
“Aku
tahu kamu suka memperhatikanku walau dengan mencuri-curi---” Jen berucap
kembali seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan. Dia melirikku dan kembali
melanjutkan perkataannya. “Kenapa tidak secara terang-terangan saja?”
“A..aku.
Aku benar-benar.. Jen apa bisa kita tidak usah membahas ini?”
“Kenapa?
Apa kamu tidak ingin tahu perasaanku?”
“Maksudmu?
Aku tidak mengerti.”
“Aku
suka jika kamu sellau memperhatikanku.” Antara senang dan takut, semuanya
beradu menjadi satu. Senang karena ternyata Jen tidak marah jika aku selalu
mencurio-curi pandang padanya, takut karena aku hanya orang yang tak punya
apa-apa, aku takut ini hanya permainan saja.
“Kenapa
kamu suka itu? Aku berbeda denganmu Jen.”
“Beda
apa? Apa perbedaan melarang perasaan seseorang untuk menyukai? Apa kamu tidak
mau memperjuangkan sesuatu dari perbedaan?” Aku hanya diam, perkataan Jen
memang benar. Selama ini aku banyak diam, tidak menyadari jika semua manusia
mempunyai hak mencintai. Tak memandang status apapun.
“Kamu
benar. Aku terlalu takut menyatakan Jen.” Aku benar-benar merasa lemah,
menyerah sebelum berperang.
“Lalu?
Apa yang akan kamu---”
“Aku
mencintaimu.” Aku berbisik tepat ditelinganya. Hatiku berdesir lebih cepat,
jantungku berdetak lebih kencang. Aku tidak tahu apa perkataanku tadi benar atau
tidak. Yang pasti aku telah menyatakan perasaanku, diterima atau tidak mungkin
itu memang sudah jalan Tuhan. Jen memelukku, dia berbisik “Tolong jangan pernah
menganggap kita beda. Aku dan kamu sama-sama manusia yang mencari hal yang kita
mau. Satu hal yang sama dari kita adalah kita sama-sama mencintai. Sudah kutunggu
ini sejak awal, terimakasih.” Aku benar-benar bahagia mendengar ucapan Jen.
Tuhan tak pernah mengijinkan kita untuk menyerah. Kini perbedaan tak pernah aku
takuti lagi. Aku dan Jen benar-benar berbeda, namun hati kita sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar